Salam para sahabat peternak cacing di planet bumi tercinta ini, jumpa kembali dengan tim omahcacingdotcom.  Dalam beternak cacing, banyak kalangan peternak pemula bertanya berapa lama cacing bisa dipanen? Seberapakah peningkatan pertumbuhannya?  Admin juga mendapat beberapa email pertanyaan yang serupa, baik sahabat omah cacing dot com, postingan ini diambil dari berbagai sumber. Yuk kita belajar bersama akan hal ini, bila ada uraian tim penulis yang kurang, mohon mendapat masukan yang membangun untuk menyempurnakan pengetahuan kita bersama.  Cekidot…..

Cacing dan Kokon

Cacing tanah merupakan hewan invertebrata yang hidup dengan memakan bahan-bahan organik yang mulai mengalami dekomposisi, mereka hidup di tempat yang lembab, teduh dan kaya akan bahan organik.  Cacing sebagian besar merupakan hewan yang hermaphrodite akan tetapi ada sebagian spesiesnya adalah parthenogenic.

Spesies yang banyak di budidayakan diantaranya jenis Lumbricus Rubellus, African Night Crawler, Eisenia Fetida (Tiger).

Menilik di habitat aslinya, maka dalam kita beternak cacing adalah perlu menjaga dan merawat atau mengkondisikan peternakan kita agar mendekati habitas asli mereka di alam agar perkembangbiakan dan pertumbuhan mereka bisa pesat.  Perkembangan dan pertumbuhan para cacing ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

  • Kondisi lingkungan/kandang
  • Kesehatan/keaktifan cacing
  • Ketersediaan makanan dan ruang gerak

Dimana, bila populasi / jumlah cacing dalam kandang terlalu padat maka reproduksi mereka akan mengalami penurunan.

Kondisi lingkungan yang disukai cacing untuk reproduksi

  • Media lembab (berkisar antara 15 – 30%)
  • Media tidak terlalu dingin atau terlalu panas (20 – 30 oC)
  • Populasinya tidak terlalu padat (sekitar 3 kg bibit per meter persegi luasan)
  • Ketersediaan pakan yang mencukupi (pakan hijauan atau kombinasi kohe+hijauan)

 

Reproduksi cacing

Cacing Kawin

Cacing jenis Lumbricus Rubellus, African Night Crawler, Eisenia Fetida (Tiger) merupakan hewan hermaphrodite/masing-masing mempunyai kelamin jantan dan betina (kelamin ganda), tetapi mereka tidak dapat menghasilkan keturunan sendiri.   Perkawinan mereka  dengan cara saling menempelkan bagian klitelium dengan posisi berlawanan.  Setelah perkawinan, sebuah kokon akan terbentuk dalam klitelium cacing, dan pada saatnya dikeluarkan melalui mulut cacing dan menetas dalam waktu beberapa minggu.

Kokon Cacing

 

Pada umumnya jumlah populasi akan meningkat sekitar 2 kali lipat dalam kurun watu 60 – 90 hari.  Seekor cacing bisa menghasilkan 1-2  kokon per minggu.  Kokon menetas bisa memakan waktu hingga 11 minggu (tergantung lingkungan) pada kedaan lingkungan atau media yang lembab dan bersuhu hangat suam-suam kuku, maka kokon bisa menetas dalam waktu sekitar 3 minggu. Akan tetapi apabila suhunya dingin maka kokon akan menetas dalam waktu sekitar 11 minggu.  Mendekati saat penetasan kokon yang semula berwarna hijau kekuningan akan berubah warna kemerahan dan ukurannya sedikit membesar dari  setiap kokon akan dihasilkan 2-4 bayi cacing.

Cacing Anakan

Apabila kondisi lingkungan kurang sesuai untuk kokon menetas, kokon akan dalam mode dorman bisa selama hingga satu tahun dan apabila lingkungan kembali sesuai untuk kokon menetas, maka proses penetasan akan berlanjut sampai kokon tersebut menetas.

Ikuti terus postingan omah cacing edisi berikutnya.  God Bless U all sahabat.

 

(by Loddy)